07 July 2008

Rokok

Saya perokok. Tentunya saya merokok. Saya termasuk perokok aktif, walaupun tidak bergantung padanya. Otak saya tau akibat dan resikonya, tapi hati saya tidak tau&tidak mau tau tentang itu semua. Maka dari itulah kenapa sampai sekarang pun saya tidak habis-habisnya mengeluarkan berpuluh ribu dari kantong saya hanya untuk membeli barang yang kata ibu saya setengah haram tersebut.
Banyak yang sebenarnya ditimbulkan akibat kebiasaan saya tersebut. Saya pernah ditampar, dimarahi habis-habisan bahkan sempat hampir diusir dari rumah karena ibu saya tau tentang kebiasaan saya tersebut. Tidak tau mengapa ia sangat berapi-api ketika mengetahui tentang itu. Apa karena tidak etis seorang perempuan merokok, atau.... ia mungkin trauma karena suaminya mati karena merokok.
Bapak saya perokok berat. Mulai menghisap lintingan tembakau sejak beliau masih di sekolah dasar. Sejak saat itu hingga umur 30 tahun, akhirnya beliau memutuskan untuk berhenti karena cintanya pada Ibu saya. Tidak tahu apa alasannya, akhirnya ia kembali merokok setelah saya dan kedua saudara saya sudah lahir.
Akhirnya, beliau divonis terkena leukimia, dan paru-parunya rusak, bolong dimana-mana. Karena rokok yang tak henti-hentinya ia hisap setiap harinya. Beliau meninggal, tak lama setelah itu. Sungguh akhir yang dramatis.
Dari kenyataan itu pun, sama sekali tidak membuka hati saya untuk berhenti merokok. At least, mencoba berhenti, itupun juga tidak. Saya tidak tau saya ini bodoh atau tidak. Saya sudah terlalu sering mendengar/melihat orang memaparkan fakta-fakta buruk tentang rokok kepada saya. Tapi lagi-lagi tidak tau kenapa saya hanya bisa tertawa, lalu melenggang pergi. Ironis memang, melihat ibu saya berkerudung, saya lahir di keluarga baik-baik, saya di sekolahkan dari kecil di sekolah Islam, keluarga besar saya pun cukup terpandang. Tapi mata saya terus tertutup, dibutakan oleh sesuatu yang saya sendiri pun tidak tau.
Alasan saya merokok?
Mengikuti jejak ayah saya? BUKAN. Supaya terlihat keren didepan teman-teman saya? TENTU SAJA TIDAK. Membunuh diri saya pelan-pelan? um, well yeah mungkin. Tapi itu bukan prioritas utama mengapa saya merokok. Mengapa saya merokok? Saya sendiri pun masih tidak tau jawabannya.
Dan saya terus mencari jawabannya sampai detik ini, sambil membakar batang rokok saya yang terakhir, untuk malam ini..


H-6

2 comments:

  1. merokok itu refleksi fab.
    Tapi saya lebih memilih berhenti, dan menyakiti diri saya sendiri.


    (another crazy girl)

    ReplyDelete
  2. haha saya kan emang gila fab, memilih kedua jalan tersebut sebagai rutinitas sehari-hari

    ReplyDelete